Kamis, 15 Maret 2012

Al-Qur'an


Bila al-qur’an bisa bicara
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu', aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

   Sekarang.. engkau telah dewasa
   Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku..
   Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah?
   Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah   pengetahuanmu..
   Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali sehingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syaitan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, didalam laci, aku engkau padamkan.

    Sekarang.. pagi-pagi sambil minum kopi,
    Engkau baca koran pagi atau nonton berita TV
   Waktu senggang.. engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
   Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat dari Allah Yang Maha Perkasa
   Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan..

Waktu engkau berangkat kerjapun
 kadang engkau lupa membaca pembuka surahku  (Basmalah)
Di perjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju kestasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan stasiun radio yang senantiasa melantunkan ayatku

   Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau memulai kerja
   Di komputermupun kau putar musik favoritmu
   Jarang sekali kau putar ayat-ayatku melantun
   e-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
   engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu

benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudahb benar-benar melupakanku
bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan liga , musik atau film dan sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita muraha dan gambar sampah

   Waktupun cepat berlalu.. aku menjadi semakin kusam di lemari
   Mangumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
   Seingatku hanya awal ramadhan engkau membacaku kembali
   Itupun hanya beberapa lembar dariku
   Dengan suara l;afadz yang tidak semerdu dulu
   Engkau kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku

Apakah koran, TV, radio dapat memberimu pertolongan?
Bila engkau dikubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
Engkau akan diperiksa malaikat suruhan-Nya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya

   Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu..
   Setiap saat berlalu.. kuranglah jatuh umurmu..
   Dan akhirnya kubur senantiasa menunggu kedatanganmu..
   Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
   Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati..
Di kuburmu nanti..
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca
yang akan membantumu dalam perjalanan di alam akhirat
Tapi akulah “Qur’an” kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

   Peganglah aku lagi.. bacalah kembali aku setiap hari
   Karna ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
   Yang berasal dari Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui
   Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu..
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

   Sentuhilah aku kembali..
   Baca dan pelajari lagi aku..
   Setiap datangnya pai dan sore hari
   Seperti dulu.. dulu sekali
   Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos
   Disurau kecil kampungmu yang damai
   Jangan aku engkau biaran sendiri..
   Dalam bisu dan sepi..
   Maha benar Allah, yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana
  

1 komentar: